Sang
Pengembara
Ia
menyelusup di antara penonton. Badan tinggi besarnya agak menyulitkannya
menyelip di celah penonton yang padat. Akhirnya ia berhasil juga walau dengan
susah payah menempati posisi yang paling nyaman menikmati sajian terindah yang telah membuatnya sangat
penasaran. Jiwa petualangnya selalu terpancing untuk menggapai apa yang
membuatnya penasaran.
Ia memang seorang pengembara. Seorang
nomad sejati. Ia digerakkan oleh rasa penasaran terhadap sesuatu. Seperti
sekarang ini. Ia harus menghimpun kekuatan, mengirit seirit mungkin untuk dapat
menginap di sebuah hotel bintang lima di kawasana Senggigi. Hanya semalam. Ia
harus pandai mengatur strategi agar satu
malamnya tak sia-sia. Ia harus lihai melihat schedule pagelaran seni di
pelataran Hotel Seraton.
Ini bukan perkara mudah. Ia bukan
seorang konglomerat yang bisa seenakknya masuk ke hotel. Modalnya hanya
semangat pantang menyerah. Buktinya, kini ia telah duduk di barisan terdepan.
Sedang melongo, dengan mata tak berkedip
melihat setiap detail gerakan sang pujaan. Bagaimana mungkin sang penari menjadi pujaan? Ia sama sekali belum
pernah bertemu. Mungkin rasa penasaran yang terbangun dari desas-desus itu yang membangun rasa
penasaran dan menumbuhkan kekaguman.
Kelambu tersingkap. Dua penari berputar-putar. Detik
berikutnya, sepasang penari muncul dari balik kelambu. Mereka adalah sekawanan
burung gagak yang tengah mandi dengan suka cita. Mereka mengepak-ngepakkan
sayap hitamnya. Mereka menenggelamkan kepala, lalu menyembul lagi dengan
ritmisnya. Mereka mengangguk-angguk, lalu berputar-putar. Itulah tarian Gagak Mandik[1]
sebagai pembuka pentas seni.
Kini giliran sang Dewi. Ia kini menarikan Gandrung Bapangan[2].
Wow, indah nian gerkan itu.
Tarian itu telah selesai. Riuh aplaus
dan gemuruh teriakan perlahan meredup. Para penabuh baru saja akan berbenah,
ketika Jinada[3] mengalunkan intronya yang lembut dari sebuah suling belo[4]. Lampu panggung bergeser mencari sumber suara. Seorang pemuda
berambut ikal tengah asyik bersandar pada sebuah tiang sisi kanan panggung
utama. Lampu hanya menerangi peniup suling misterius itu. Semua penabuh
terpukau. Sebuah kemampuan luar biasa.
Mereka terlena, sampai lupa. Seharusnya detik ke-23
mereka sudah masuk. Terpaksa mereka harus menunggu 23 detik berikutnya. Suling
tunggal masih mendayu sendu. Detik ke-23 berikutnya pun tiba, kelenang[5] masuk dengan manis, detik ke-26 gendang menimpali dengan apik. Lalu
gong bergema pada detik ke-30, lalu terompong meningkahi meningkatkan gairah.
Lengkaplah sudah keindahan malam itu. Semua telah mengambil bagiannya dengan
sempurna. Suling belo tak mau kalah, ia kembali mendominasi pada detik ke-36.
Suaranya melengking. Jinada memeluk
penonton.
Karinti terkesima.
Bersimpuh. Naluri seninya merambat pelan pada bawah sadarnya. Mengalir
merambati nadi, pelan mengikuti alunan Jinada yang makin memagut. Pertama-tama
posisi duduknya berubah artistik. Lalu, ujung jemarinya bergerak lembut. Lalu
wajahnya terangkat pelan. Lalu, tangannya terangkat gemulai. Semua dalam
pagutan jinada.
Kembali sang penari manari, berputar
di pentas, mengimbangi tetabuhan berkelas. Ia sesekali melirik ke peniup suling. Lirikan
berikutnya, sang peniup suling telah menabuh kelenang dengan cekatan. Karinti semakin kerasukan. Lirikan
berikutnya sang penabuh kelenang telah memeluk sebuah gendang. Tetabuhan menjadi semakin berjiwa. Ia bangkit, berputar mengelilingi
sang dewi sambil menabuh gendang dengan cekatan. Lalu,
gendang ia lepaskan demi sang dewi. Ia menari dengan lihai.
Pasangan serasi. Mereka kini adalah sepasang angsa yang
bercengkerama di tengah sebuah danau bening. Lalu membumbung di udara menjelma
camar. Detik berikutnya mereka mengangguk-angkuk, menggeleng-geleng,
melenggok-lenggok. Wow, sebuah tarian berpasangan yang inprofisasif.
Gerakan-gerakan mereka telah terlepas dari kendali pikir. Inilah tarian naluri.
Tarian hati. Indah tak terlukis di kanvas sang pelukis.
Akan tetapi, itu tak berlangsung lama. Pada putaran berikutnya, Karinti lebih terpana.
Suara suling kini kembali mendayu. Suling belo sedang
ditiup dengan begitu lihai. Kini yang terdengar hanya suling belo. Suara
khasnya sangat memukau menutup jinada dengan elegan pada menit ke-5,05. Semua terkesima, lalu menjadi penonton dengan seribu pujian yang tak mampu tertuang kata-kata. Karinti terduduk bersimpuh lagi dengan manis,
menatap dengan penuh tatapan.
Gemuruh aplaus kembali terdengar.
Lebih gemuruh dari sebelumnya. Lalu sunyi. Mereka berbenah untuk kembali ke
Lenek malam itu juga. Besok mereka harus
tampil lagi sebagai duta seni. Seni kala
itu memang sebagai anak emas pariwisata di NTB. Beberapa brosur dibuat oleh
dinas pariwisata. Foto Karinti selalu ditempatkan di halaman sampul.
C∞∞C
Karinti belum beranjak dari duduk
setelah shalat Isya. Beberapa jam lamanya ia duduk seperti itu. Ia tak sedang
tafakkur. Ia sedang membayangkan seseorang. Seorang penabuh serba bisa yang
misterius. Karinti tak sempat bilang apa-apa, karena pemuda itu lenyap begitu saja di antara para pengunjung
yang sebagian besar para touris asing.
Malam ini malam ketiga kejadian
seperti ini berulang. Tiga hari lamanya wajah itu tak pernah hilang dari benak
Karin. Ia kini tak lagi bersemangat.
Dalam keadaan seperti inilah ia lebih sering melakukan ibadah shalat lima
waktu. Ibadah yang sering ia tinggalkan begitu saja bila ia sedang akan menari.
Ya, tiga hari ini Karinti shalat dan berdoa. Namun sebenarnya sia-sia saja,
karena ia sama sekali tak ingat Tuhan dalam shalat. Seluruh gerak tubuhnya
selalu menggambar siluet wajah sang penabuh hati itu. Sang penabuh yang menabuh
dengan hati, dan kini sedang menabuh hati Karinti.
Inilah kali pertama Sang Dewi Tari
memikirkan sesuatu selain tari. Rupanya ia dijangkiti sindrom cinta pertama di
awal perjumpaan. Pesona yang tertebar
rupaya hanya untuknya. Siapa ya yang
mampu membantu sang dewi dalam kodisi seperti ini? Lalu bagaimana orang bisa
membantunya kalau sama sekali ia tak punya data sedikitpun tentang penabuh
misterius itu? Kalaupun ia tau, lalu apa ia punya keberanian untuk
mengungkapkan rasa pada seorang yang belum ia kenal? Waduh,
pertanyaan-pertanyaan itu berseliweran di benak Karinti. Ia sama sekali tak mampu menjawabnya.
Petikan senar gitar sayup-sayup
menerpa telinga. Ia menoleh ke jendela yang tertutup. Lalu suara lirih hinggap
juga menerpa telinganya yang peka. Peka terhadap keindahan. Ia melayang. Lirik
lagu itu sepertinya ditujukan untuknya seorang. Jantungnya berdetak agak acak.
Dengan debaran itu ia bengkit menyibak korden merah hati yang membatasi ruang
tamu dengan teras luar.
“Eh, jangan ngamen di sini! Ganggu
orang tidur...!”
Teriakan dari seberang itu
membuyarkan harapan Karinti. Sepi lagi.
Karinti jadi kesepian.
Di teras depan udara malam mengusir
gerah. Tembok dari batu yang tersusun itu membatasi pandangannya. Daun bunga
panca warna sedikit bergoyang karena angin.
C∞∞C
Sang Pengembara kelihatannya lagi
dimabuk asmara. Bukan cinta pertama tentu saja. Itu tak masalah. Apa bedanya?
Sama saja. Sama-sama jatuh cinta. Bahkan, ia merasa inilah cinta! Cinta
sebenarnya cinta. Kalau yang dulu-dulu itu kayaknya bukan. Paling tidak itu
yang dirasakan oleh Sang Nomad. Jelas sekali suara hati itu terdengar lirih via
puisi yang bergentayangan dalam benaknya. Ia menjelma jadi pujangga.
Lihatlah
malaikatku, wanita yang duduk di istana hatiku ini
tanyakan
kepada penghuni langit tentang dia
kupastikan
mereka akan cemburu
Gerak tubuh itu masih menari-nari
di pelupuk mata. Senyuman itu melintas.
Tatapan mata, dan semua yang ia lihat malam itu adalah keindahan yang sengaja
dikemas untuk dirinya. Lalu larik puisi kembali bergentayangan di benak sang
pujangga. Sang pengembara yang pujangga.
Tarian seindah apapun tak mampu
menyamai gerak tubuhnya
Senyum seribu bidadari rasanya
Hanya sunggingan kecil di bibirnya
Ia lebih indah dari keindahan
Ia lebih lembut dari kelembutan
Ia lebih anggun dari keanggunan
Oh malaikatku...
Sentuhlah dia, jika kau mampu[6]
Ia tak pernah separah ini. Sebelumnya, perempuan tak ada artinya.
Ia bisa saja menyatakan cinta kepada siapa saja. Ia bisa meninggalkannya kapan
saja. Ya, ia memang sang nomad, sang Nomad cinta. Begitu cepat ia jatuh cinta.
Menggebu-gebu pada bulan pertama. Biasa saja pada bulan kedua. Lalu, meredup
pada bulan ketiga, dan akhirnya padam begitu ada dermaga baru yang bikin
penasaran. Apakah itu masih berlaku kini di hadapan sang dewi?
Yang ia bingungkan, mengapa malam
pentas seni di Seraton menjadi sia-sia? Tenaga apa yang menggeret langkahnya
berbaur dengan para penonton, berlalu tanpa menoleh sedikit pun ke belakang?
Padahal ia tau benar sang penari begitu terpukau oleh bakat alamnya. Tidakkah
itu sebuah kesempatan emas yang terlepas dan sulit sekali untuk ditemukan
kembali. Malam itu, setelah pentas usai, seperti keberanian yang muncul
tiba-tiba melangkah ke pentas, begitu juga ketidakberanian tiba-tiba menyergap.
“Paling tidak, aku punya satu langkah maju,” desahnya pada diri sendiri.
Satu langkah maju mendekati hati.
Sepintas ia merasa tatapan itu begitu jelas berkata-kata. Namun, kesimpulan
agaknya terlalu dini untuk ditarik. Masih banyak kemungkinan-kemungkinan.
Ragu-ragu. Baru sekali ini ia takut mengayun langkah. Makanya, langkahnya belum
tercipta setelah ia tau di mana seharusnya ia bisa menemui sang pujaan.
Keraguan itu terus menahan langkahnya untuk mengetuk pintu, sampai pada
akhirnya sebuah ketukan santun bertalu di pintu rumahnya. Siapa yang datang?
“Maaf, kami dari Bebadosan. Kami ingin
Anda bergabung dengan grup kami,” seorang dari mereka membuka percakapan
setelah beberapa menit sepi.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ia
tersentak. Bukankah ini saat-saat yang paling indah. Ia tau benar sang dewi
adalah penari dari Sanggar Tari Bebadosan. Akhirnya apa yang ia bayangkan akan
menjadi kenyataan. Ia akan punya waktu sangat banyak mendekat dan menuangkan
cinta dalam wadah yang terbuka.
“Bagaimana?”
Seandainya orang-orang di depannya
tau, bagaimana perasaan Sang Pengembara, mereka tak kan bertanya seperti itu
kepadanya.
Belakangan ia tau kalau orang yang
menjemputnya malam ini adalah pendiri sanggar seni, sekaligus kakak kandung
Karinti yang baru pulang dari sekolah tari di Pulau Dewata dan di Jogja.
Namanya Wirangga. Dialah yang mengentas Karinti dari istana peninggalan sang
ayah. Dialah yang mempertemukan dua orang yang menyimpan debur ombak yang sama.
“Hai...!” Hanya itu, lalu tenggorokan
itu kering. Debar acak itu lebih dominan. Lalu, hanya mata dengan mata. Debar
itu jadi semakin acak ketika sebuah senyum terlukis di bibir sang dewi. Aristo
melayang tak menyentuh tanah ketika tatapan itu beradu. Ia seperti terkena
sihir. Tatapan itu memancarkan sesuatu yang tak tergambarkan.
Ini pertemuan pertama mereka setelah
pentas di Seraton. Pertemuan pertama, sekaligus terakhir, karena besok sang
dewi harus berangkat ke Jakarta sebagai duta kesenian NTB. Kalau ia bernasib
baik, ia akan terpilih sebagai duta Indonesia dalam lawatan budaya ke berbagai
negara Eropa.
Sang Pengembara mengembara lagi. Kini
ia burung yang terlepas dari jerat, dan terpisah dari kawanan. Terbanglah ia
sesuka kati. Karena suatu proses yang panjang, akhirnya ia hinggap di pucuk
menara masjid. Di sana ia bertemu dengan Umar Yusuf, pamannya, perantara
hidayah itu.
[1] Tari kreasi baru karya A.Raya, Lenek
[2] tari klasik Sasak, tari tunggal
[3] Irama, gending khas yang didominasi soling belo
[4] Suling panjang, ditiup sambil
duduk berselonjor dengan posisi badan condong ke belakang
[5] kolintang, alat musik
pukul tradisonal dengan bilah kayu, bambu, atau besi yang dipasang berjejer.
[6] Puisi romantis karya Agus Firman